TUGAS UTS

 

PANDANGAN RASA EMPATI DI RANAH DIGITAL


EMPATI

Empati adalah kemampuan seseorang untuk menempatkan diri mereka di posisi orang lain, melihat dengan mata, dan merasakan dengan hait. Dengan berempati, seseorang dapat membuat orang lain merasa nyaman dan mampu mengurangi rasa sesak di dada.
Empati memiliki beberapa ciri-ciri, yaitu :
    • Ikut merasakan, yaitu kemampuan untuk mengetahui bagaimana perasaan orang lain.
    • Dibangun berdasarkan kesadaran sendiri, bukan atas permintaan orang lain.
    • Peka terhadap bahasa isyarat, karena emosi lebih sering diungkapkan melalui bahasa isyarat.
    • Kontrol emosi, yaitu menyadari dirinya sedang berempati sehingga tidak larut terlalu jauh dalam perasaan orang lain.

    Jenis - jenis Empati :
    • Empati Kognitif
    Dengan memiliki jenis empati kognitif, seseorang akan memiliki kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain dan memandang sesuatu dengan sudut pandang orang tersebut.
    Misalnya, ketika ada teman yang tengah berduka cita karena ayahnya telah meninggal, maka ia akan turut memberikan ucapan berduka dan ikut bersedih. Kemudian, ia bisa membantu menenangkan temannya agar tidak sedih berlarut larut. Karenanya, kontrol emosi sangat dibutuhkan bagi orang yang berempati.

    • Empati Somatik
    Orang yang memiliki empati somatik dapat merasakan dan merespons secara fisik sesuatu yang dialami oleh orang lain. Misalnya, ketika seseorang melihat temannya terlihat pusing karena sebuah masalah yang dihadapi, ia akan ikut merasa pusing.

    • Empati Spiritual
    Empati spiritual akan membuat seseorang seakan tercerahkan ketika melihat sesuatu yang menyentuh hatinya. Kemudian, orang tersebut akan melakukan tindakan nyata yang dilakukan secara spontan.
    Orang dengan empati spiritual akan langsung bergerak untuk memberikan pertolongan ketika melihat orang lain tertimpa musibah. Misalnya melihat orang kecelakaan di jalan.

    Dalam dunia digital, banyak interaksi manusia yang dilakukan melalui perangkat mobile dan internet. Walaupun hal tersebut membuat kita dapat berinteraksi secara efisien, dunia digital juga menghilangkan salah satu aspek emosional manusia seperti empati 

    Memang lebih mudah bagi kita untuk menyatakan sesuatu di kolom komentar dibandingkan tatap muka secara langsung, dan ada alasan dibalik hal tersebut. Sejak lahir, manusia diajarkan untuk berinteraksi melalui nada suara dan ekspresi wajah. Ketika dua hal tersebut hilang, yang tersisa hanyalah kata-kata dan banyak konteks atau situasi yang terabaikan.

    Tantangan kita sebagai bagian dari masyarakat adalah menegaskan kembali kasih sayang, sopan santun, dan kebaikan ke dalam kehidupan online kita. Seringkali kita merasa sedih karena kalimat - kalimat tidak mengenakkan dari akun-akun di platform jejaring sosial.

    Contoh rasa empati di ranah digial : 

    Empati di Tengah Masa Pandemi

    Seperti yang kita ketahui, pandemi saat ini melanda di hampir seluruh negara dan telah menewaskan banyak manusia mulai dari yang muda sampai tua.
    Di masa seperti ini kita harus berempati kepada para pejuang covid-19 tak terkecuali tenaga medis dan para pasien covid-19.

    Bergotong royong melawan covid

    Pandemi COVID-19 yang telah berlangsung sejak awal tahun 2020 hingga kini membawa sekurangnya dua keresahan yang menurut saya paling krusial di Indonesia: pertama, melemahnya kondisi ekonomi sebagian besar masyarakat Indonesia khususnya kelas menengah dan bawah akibat pembatasan aktivitas dan pemutusan hubungan kerja. Pada tiap keresahan dan kerentanan ini kita akan melihat bagaimana gotong royong menjadi spirit, semangat dan ruh yang menggerakkan empati dan aksi masyarakat Indonesia melalui gerakan warga membantu warga dalam beragam bentuk. Dalam konteks pandemi saat ini, wacana vaksin gotong royong yang menuai kontroversi dapat menjadi contoh bagaimana jargon ini digunakan dengan makna frasa yang mengalami peyorasi. Semangat gotong royong juga menjadi kambing hitam dalam berbagai praktik “korupsi berjamaah” di berbagai sektor pemerintahan dan masyarakat. Bukan sekadar jargon, gotong royong adalah modal sosial yang bila dikembangkan dengan baik dapat membangun kompetensi sumber daya manusia (SDM) yang lebih baik, mengubah struktur masyarakat ke arah yang lebih egaliter dan tidak polaristik, menciptakan manajemen sosial yang lebih sehat dan kepemimpinan sosial dan politik yang memprioritaskan kemajuan bersama baik di tingkat komunitas lokal maupun nasional. Pada awalnya, tradisi gotong royong merupakan diskursus politik yang mendasari relasi negara dan rakyat di pedesaan dan tercermin dalam tiga hal: watak atau sifat dasar pemerintahan, hubungan antara pemerintah dengan masyarakat pedesaan dan legitimasi permintaan dan pemenuhan kebutuhan oleh negara. Namun dalam beberapa dekade terakhir gotong royong menjadi doktrin yang selalu digaungkan pemimpin politik dan perencana pembangunan ketika membicarakan kepentingan nasional. Koentjaraningrat, secara tradisi ada dua praktik gotong royong yang dikenal masyarakat Indonesia yaitu gotong royong tolong menolong (aktivitas pertanian, rumah tangga, pesta dan perayaan, bencana dan kematian) dan gotong royong kerja bakti (untuk kepentingan umum baik atas inisiatif warga atau dipaksakan). Dalam praktik yang paling sederhana, gotong royong antar warga dilakukan untuk memperkuat perekonomian dan ketahanan sosial. Dalam proses pembangunan, gotong royong bukan saja menjadi wacana yang terus digaungkan tetapi juga melalui proses institusionalisasi dalam program pembangunan. Gotong royong menjadi alat rekayasa sosial dan strategi linguistik yang digunakan elit untuk menciptakan kontrol atas masyarakat. Namun seiring waktu, masyarakat pun semakin kritis dalam menyikapi makna dan praktik gotong royong serta memahami potensi penyalahgunaan jargon ini oleh pejabat-pejabat korup. Dalam konteks pandemi COVID-19, gotong royong mengejawantah dalam beragam gerakan swadaya warga bantu warga dan bertransformasi dalam beragam bentuk altruisme yang didasari rasa empati dan solidaritas sosial. Dampak pandemi pada warga bukan hanya ancaman kesehatan dan keselamatan dari virus mematikan namun juga ancaman kerentanan secara ekonomi. Pembatasan ini berdampak besar pada keberlangsungan hidup dan kesejahteraan masyarakat: para karyawan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) karena pabrik atau kantor ditutup atau karena yang bersangkutan harus menjalani isolasi mandiri (isoman) yang berkepanjangan. Bagaimana dengan orang-orang yang kehilangan sumber pendapatan dan harus menjalani isoman namun tidak mampu menebus obat-obatan atau tidak ada uang untuk biaya pemakaman kerabat? Inisiatif warga membantu warga yang terdampak pandemi (baik secara kesehatan maupun secara ekonomi atau keduanya) didorong oleh rasa empati, solidaritas dan semangat kolektif sebetulnya telah muncul sejak awal masa pandemi.

    Ada juga beberapa hal sederhana yang dapat kita lakukan untuk membantu menyebarkan lebih banyak kebaikan dan hal positif di platform online.

    Ini beberapa hal yang bisa kamu lakukan.

    1. Pegang kendali terhadap diri sendiri

    Di dunia nyata, jika seseorang mengajak Anda untuk berbincang namun dengan cara yang tidak sopan, langkah yang biasanya diambil adalah dengan tidak menggubrisnya. Sama halnya di dunia online, jika Anda menemukan orang yang menyebalkan, Anda tak perlu menghiraukannya.

    Anda juga harus menyadari bahwa kata-kata Anda dapat mempengaruhi orang lain. Jika Anda merasakan dorongan atau keinginan untuk menghina seseorang di platform online - tanyakan pada diri Anda sendiri mengapa Anda bisa memiliki perasaan itu, dan apakah orang lain juga memiliki alasan yang sama. Yakinkan diri Anda dahulu bahwa amarah dan rasa benci mereka tak akan mengubah opini Anda, dan begitupun sebaliknya.

    2. Rayakan hidup Anda bersama teman dan keluarga

    Seringkali kita membandingkan kehidupan dan segala yang kita miliki dengan orang lain, yang terlihat jauh lebih baik dari kita. Cara termudah untuk membebaskan Anda dari cara berpikir seperti ini adalah berfokus pada diri dan kehidupan yang Anda jalani.

    Carilah hal-hal yang membuat Anda mensyukuri kehidupan ini; hal-hal tersebut akan membuat Anda menghargai apa yang Anda miliki. Tak hanya itu, tengoklah dan berikan perhatian yang tulus kepada teman-teman dan keluarga Anda. Mereka bukan hanya sekedar komponen utama yang dapat memperkaya hidup Anda dan membuat Anda menjadi diri sendiri - hal sederhana seperti menanyakan kabar mereka dapat memberikan perbedaan yang positif bagi kesehatan mental mereka.

    Melatih empati di ranah online merupakan bagian dari program Asah Digital dari Facebook yang menyediakan sumber daya untuk membangun komunitas global yang bertanggung jawab dan memiliki keterampilan yang mumpuni untuk menjadi warga digital yang lebih baik.

    Demikian penjelasan singkat tentang Empati di masa Pandemi.

    SAYA MUHAMMAD RAJAYYA RAFIF PAMIT UNDUR DIRI


    Komentar